Halo, Maret


Tak ada serak seringai

Duka enggan berpeluh

Suka pun enggan berlabuh

Senyumnya; diam

Hanya gelisah yang kembali bergumam


Pulangnya aku berpendar

Dengan beban dan pikiran racau dari perantauan

Aku hilang di tengah ramai

Dominasi di tengah sunyi

Aku, bukan aku di bulan Martius


Ada kalanya pikiran berpencar

Mencari ibu dari semua teori tentang pagi dan sore

Ada kalanya diam; gelisah

Menjadi satu dengan titik bingung tak berkeseduhan


Apa kabar, Maret?

Bulan pertama yang di-nomor-tiga-kan

Menjadi sama dengan aku yang bermalam dengan angan

Maafkan atas kebingungan yang diciptakan Caesar



Bandung; dinding kamar kost;

Jam 9.33 pagi berkabut

~ ptw ~

Banci dari Negeri Bencong Bertemu Berli (Sebuah Kisah Lucu)


 

The collegers, kalian suka nongkrong ‘kan? Itu.. suatu kotoran di hidung yang kalau udah kering jadi garing, pengennya hasying.. hasying.

*Itu.. korong. -_-

Oke, salah. Haha. Sorry, kalimat pembukanya jadi jorok. Ini berkaitan dengan tingkat kelucuan cerita yang sedang saya tulis. Kejadian ini berlangsung pada masa sebelum Masehi bulan Oktober tahun lalu, tepatnya tanggal 12 Oktober 2016 jam tujuh malem.

Kenapa baru ditulis hari begini? Simple. Males. Haha *dafuk >,<

Let’s go! Go!

Continue Reading

Classmate #4 – Kukuh Iman Raharjo


Well, The Collegers sekalian sudah cukup lama saya gak nulis di blog sepi ini. Mari kita berhitung sejenak. Terakhir saya menulis tentang teman-teman kelas saya kira-kira.. kurang lebih.. baru satu tahun lalu. 🙂

But, please ignore that and act like I never tell how lazy I am so far. 😉

Oke, karena sudah cukup lama kisah para mahasiswa unyu ini saya abaikan, saya tidak yakin harus mulai dari siapa. Mari kita mulai dari Kukuh.

(So you don’t be sure about him, do you?)

Ignore that. It was just unclearable voices of my mind.

Please, have a seat. Especially you, KUKUH IMAN RAHARJO. 🙂

Apa teh? Eh. Hah? -_- Continue Reading

Halo, Februari


 

 

Aku berjalan

 

Kembali sendiri

 

Ditemani sepasang kaki

 

Dua tangan

 

Dan pikiran yang melayang

 

 

 

Tak kian hinggap; terbang

 

Tak kian diam; berlari

 

Sore ini memang sendiri

 

Di samping sebotol saripati anggur

 

Dan juga..

 

Tinta yang sedang menari

 

Di lantai kertas ini

 

 

 

Aku kembali berjalan

 

Menunggu kaki memberhentikan diri

 

Menanti mata yang berhenti menatap

 

Dan nafas yang kembali normal; tersengal

 

 

 

Halo, Februari

 

Hari ini..

 

Karuniai aku hati.

 

 

 

 

 

10 February 2017; 2.28

 

Cerita sebelum kemarin

 

 

 

~ ptw ~

 

Intervensi Diam


 

 

Manusia meranggas

Di antara pohon-pohon tua pinggir jalan

Berdiri diam

Berjalan pelan

Kadang terburu

Sibuk. Bukan dengan sesamamu

Tapi, dengan sesuatu yang jauh

 

Gerimis meringis

Sepanjang hari; dan malam kembali lengang

Manusia bercengkerama

Bukan dengan Tuhan

Tapi, sebuah pertengkaran

Katanya penistaan

 

Bumi dan langit beringsut

Betapa bisunya mereka di setiap kejadian

Dalam sebuah diskusi dan jarak; juga pertengkaran

Bumi kalut

Langit tenggelam

Manusia menanti

Kapan akhirnya mati?

 

10 February 2017;  2.14 am

Pagi Buta

~ ptw ~

 

Halo, Apa Kabarmu?


 

Serak seringai mata dan suara

Pada sebuah musim; dan malam

Serta senja dan hujan

Menyesap secangkir kenangan

Dalam satu kali teguk

Rindu menyeruak

 

Januari berselimut hujan

Dari dini hari hingga sore ini

Tak berhenti; air terus berlari

Dan sampai kini

Masihkah kau memandangi

Sebuah kolase yang kita ciptakan dalam imaji

 

Bunga lili dalam vas kaca di luar jendela

Dibelai hujan deras

Tersentuh beliung

Rapuh.

Itu aku

Bersama kemelut dari mata

Turun ke Bumi menjadi adegan sendu

Diselubungi hujan sore itu

Sebuah seringai senyum..

 

“Halo, apa kabarmu?

Lama tak bertemu”

 

Bandung, gelap; kamar kost

~ ptw ~

“Sapa Januari”


Apa kabar, Langit yang kembali temaram?

Bumi kian hari kian sedih karena ulah Hujan

Tiap malam mengadu ia

Hujan tak bisa diam

Berisik!

Terketir-ketir Bumi meringis

 

Cakap Bumi didengar Hujan

Rupanya ia tak senang

Sudah musimnya Hujan menyiram

Pun bukan hanya karena itu

Padahal ini masih Bumi yang minta

Hujan marah

Kembali murka

 

Ia tak senang. Hujan mengirimkan bala bantuan

 

Bumi meranggas

Kembali mengutuk Hujan

 

Hujan tak terima

Ia mengirim air bah

Memanggil Topan; seorang teman lama

 

Bumi bicara

Pada Pohon dan Mata air

Juga Danau dan Sungai; pun Tumbuh-tumbuhan

Hari ini, janganlah dulu meluap

Jadilah sebuah bendungan

 

Mereka terheran

Kenapa?

Hujan mereka yang minta

 

Bumi bertanya

Kenapa?

Hujan hanya membuatnya basah dan susah

 

Hujan bingung

Ada apa?

Tak satu suara antara Bumi, Pohon, Danau, pun Tumbuhan

 

Langit bersaksi

Pada Bumi, “Hujan tak berisik, temannya lah yang mengusik

Petir dan Halilintar”

Pada Hujan, “Yang mengeluh bukan Bumi, tapi sang penghuni”

 

Pohon, danau, sungai, pun tumbuhan geram

Penghuni yang mana?

“Kami tak berbuat apa-apa”

 

Langit meluruskan

Mereka. Manusia

Yang tak pernah puas dengan kehendak semesta

Bersyukur pun mereka lupa

Di periode baru bukannya bertafakur

Tapi terkubur..

Dalam hingar lampu dan resolusi yang kabur

 

Sekian. Sepenggal kisah di bulan Januari.

 

10 February 2017; 3.00 am

Bulan lalu 

~ ptw ~